Dia agak terlambat menikah, tetapi untungnya segera dikaruniai tiga orang anak laki-laki. Saat itu usai anak-anaknya 6, 4 dan 1 tahun. Jono merencakan memberikan anak-anaknya pendidikan yang terbaik hingga perguruan tinggi kelak. Kehidupannya pun juga sudah direncanakan agar segala cita-cita dan angan-angannya bisa tercapai kelak.
Suatu saat saya berkunjung ke rumahnya untuk membicarakan cita-citanya memberikan pendidikan dan kehidupan yang terbaik buat anak-anak dan keluarganya. Kami mulai diskusi dan merancang sebuah program untuknya.
Dia termasuk orang yang sangat alot untuk diajak diskusi dan wawancara. Banyak sekali ide-ide yang bertentangan yang dia ajukan. Menurutnya investasi pada saham perusahaan uranium dapat menghasilkan keuntungan lebih banyak. Saya bersikeras untuk menjelaskan bahwa program saya saya berikan, yakni asuransi pendidikan untuk anak-anaknya tidak bisa dibandingkan dengan hal-hal seperti itu, tidak ada yang bisa menggantikannya. Saya sampaikan juga bahwa tanpa asuransi semua rencana untuk anak-anaknya tidak terjamin dengan aman.
Hampir selama empat bulan saya berusaha, hingga akhirnya dia setuju untuk melakukan pengisian form permohonan asuransi (SPAJ) senilai Rp. 500juta. Baginya bukanlah masalah untuk membayar premi sebesar itu, tetapi ketika saya minta untuk segera membayar/transfer uangnya, dia selalu beralasan sibuk dan meminta saya untuk menunggu sampai dia punya waktu untuk melakukannya. Beberapa kali saya menemuinya agar segera transfer uangnya agar polisnya in-force, tetapi saya selalu gagal.
Saya tidak terlalu kecewa, karena Dia telah meyakinkan saya, jika bulan depan dia akan segera trasnfer setelah semua proyeknya selesai bulan depan. Dan saya telah mencatat janji pertemuan berikutnya.
Baru tiga minggu setelah kejadian itu, ada kabar dari seorang teman, "Jono saat ini sakit parah dan sedang di rawat di rumah saskit"
"Ah, tidak mungkin. Tiga minggu yang lalu Dia sehat tidak kurang satu apapun"
Dia berusaha meyakinkan saya, "Sungguh, keluarganya membawa dia ke rumah sakit. Dia diserang kankeer"
Sangat tidak bisa dipercaya, saya segera kerumah saskit untuk memastikannya. Ternyata benar, Jono sedang berbaring disana. Pada mulanya Dia mengira itu sakit biasa karena kecapekan karena kerja tiada hentinya.
Saya berbincang-bincang dengan istrinya dan istrinya bertanya,"Saya mau bertanya sesuatu padamu. Apakah Jono sudah membali polis yang kamu tawarkan itu?"
Pertanyaan yang sangat memukul. "Aku sangat menyesal mengatakannya padamu Bett, tetapi Dia belum mentransfer uangnya sehingga polisnya tidak in-force. Sudah beberapa kali saya minta untuk transfer, tapi dia selalu menunda. Maafkan saya."
"Bisakah dia ditransfer sekarang?"
"Sayang sekali Bett, sekarang sudah terlambat. Dalam keadaan seperti ini, Jono tidak bisa membeli asuransi lagi!"
Kedengarannya lucu, tetapi sangat tragis. Jono hanya mampu bertahan beberapa minggu dan akhirnya meninggal. Dia pergi meninggalkan janda tiga orang anak yang masih sangat kecil. Keluarganya meminta saya untuk menjadi salah seorang pengusung jenasahnya. Sambil berjalan saya merenungi bahwa saya telah gagal melindungi satu keluarga teman baik saya
PENGALAMAN INI JANGAN SAMPAI TERJADI PADA DIRI DAN KELUARGA ANDA, MANFAATKAN WAKTU SELAGI ANDA MASIH PUNYA WAKTU!
0 komentar:
Posting Komentar